Wednesday, 20 January 2010

Elemen-elemen Fisik Kota

Dalam desain perkotaan (Shirvani, 1985) terdapat elemen-elemen fisik Urban Design yang bersifat ekspresif dan suportif yang mendukung terbentuknya struktur visual kota serta terciptanya citra lingkungan yang dapat pula ditemukan pada lingkungan di lokasi penelitian, elemen-elemen tersebut adalah :
Tata Guna Tanah
Tata guna lahan dua dimensi menentukan ruang tiga dimensi yang terbentuk, tata guna lahan perlu mempertimbangkan dua hal yaitu pertimbangan umum dan pertimbangan pejalan kaki (street level) yang akan menciptakan ruang yang manusiawi. Peruntukan lahan suatu tempat secara langsung disesuaikan dengan masalah-masalah yang terkait, bagaimana seharusnya daerah zona dikembangkan, Shirvany mengatakan bahwa zoning ordinace merupakan suatu mekanisme pengendalian yang praktis dan bermanfaat dalam urban design, penekanan utama terletak pada masalah tiga dimensi yaitu hubungan keserasian antar bangunan dan kualitas lingkungan.
Bentuk Dan Massa Bangunan
Menyangkut aspek-aspek bentuk fisik bangunan yang meliputi ketinggian, besaran, floor area ratio, koefisien dasar bangunan, pemunduran (setback) dari garis jalan, style bangunan, skala proporsi, bahan, tekstur dan warna agar menghasilkan bangunan yang berhubungan secara harmonis dengan bangunan-bangunan lain disekitarnya. Prinsip-prinsip dan teknik Urban Design yang berkaitan dengan bentuk dan massa bangunan meliputi : Scale, berkaitan dengan sudut pandang manusia, sirkulasi dan dimensi bangunan sekitar; Urban Space, sirkulasi ruang yang disebabkan bentuk kota, batas dan tipe-tipe ruang; Urban Mass, meliputi bangunan, permukaan tanah dan obyek dalam ruang yang dapat tersusun untuk membentuk urban space dan pola aktifitas dalam skala besar dan kecil.
Sirkulasi Dan Parkir
Elemen sirkulasi adalah satu aspek yang kuat dalam membentuk struktur lingkungan perkotaan, tiga prinsip utama pengaturan teknik sirkulasi adalah Jalan harus menjadi elemen ruang terbuka yang memiliki dampak visual yang positif; Jalan harus dapat memberikan orientasi kepada pengemudi dan membuat lingkungan menjadi jelas terbaca; Sektor publik harus terpadu dan saling bekerjasama utk mencapai tujuan bersama.
Ruang Terbuka
Ian C. Laurit mengelompokkan ruang terbuka sebagai Ruang terbuka sebagai sumber produksi; Ruang terbuka sebagai perlindungan terhadap kekayaan alam dan manusia (cagar alam, daerah budaya dan sejarah); Ruang terbuka untuk kesehatan, kesejahteraan dan kenyamanan.Ruang terbuka memiliki fungsi : Menyediakan cahaya dan sirkulasi udara dalam bangunan terutama di pusat kota; Menghadirkan kesan perspektif dan visa pada pemandangan kota (urban scane) terutama dikawasan pusat kota yang padat; Menyediakan arena rekreasi dengan bentuk aktifitas khusus; Melindungi fungsi ekologi kawasan; Memberikan bentuk solid foid pada kawasan; Sebagai area cadangan untuk penggunaan dimasa depan (cadangan area pengembangan).
Jalur Pejalan Kaki
Sistem pejalan kaki yang baik adalah mengurangi ketergantungan dari kendaraan bermotor dalam areal kota, meningkatkan kualitas lingkungan dengan memprioritaskan skala manusia dan lebih mengekspresikan aktifitas PKL mampu menyajikan kualitas udara.
Activity Support
Pada dasarnya activity support adalah aktifitas yang mengarahkan pada kepentingan pergerakan (importment of movement) serta kehidupan kota dan kegembiraan (excitentent). Keberadaan aktifitas pendukung tidak lepas dari tumbuhnya fungsi-fungsi kegiatan publik yang mendominasi penggunaan ruang-ruang umum kota, semakin dekat dengan pusat kota makin tinggi intensitas dan keberagamannya. Bentuk actifity support adalah kegiatan penunjang yang menghubungkan dua atau lebih pusat kegiatan umum yang ada di kota, mislnya open space (taman kota, taman rekreasi, plaza, taman budaya, kawasan PKL, pedestrian ways dan sebagainya) dan juga bangunan yang diperuntukkan bagi kepentingan umum.
Simbol Dan Tanda
Ukuran dan kualitas dari papan reklame diatur untuk menciptakan kesesuaian, mengurangi dampak negatif visual, dalam waktu bersamaan menghilangkan kebingungan serta persaingan dengan tanda lalu lintas atau tanda umum yang penting. Tanda yang didesain dengan baik menyumbangkan karakter pada fasade bangunan dan menghidupkan street space dan memberikan informasi bisnis. Dalam urban design, preservasi harus diarahkan pada perlindungan permukiman yang ada dan urban place, sama seperti tempat atau bangunan sejarah, hal ini berarti pula mempertahankan kegiatan yang berlangsung di tempat itu.

Monday, 14 December 2009

Perencanaan Tata Ruang berbasis GIS

Pesatnya perkembangan teknologi informasi membawa perubahan yang besar di berbagai bidang termasuk bidang survei dan pemetaan. Disadari atau tidak, teknologi informasi tentunya akan berpengaruh terhadap pola pikir dan pendekatan yang dilakukan.
Perkembangan teknologi informasi bidang survei dan pemetaan dewasa ini secara signifikan telah mencapai tahapan yang memungkinkan untuk pengelolaan data keruangan secara integral. Pengelolaan data ini dimaksudkan agar tercipta pola tata ruang yang dapat memberikan keseimbangan lingkungan serta dukungan ruang yang nyaman terhadap manusia serta mahluk hidup lainnya dalam melakukan kegiatan dan memelihaa kelangsungan hidupnya secara optimal. Berkaitan dengan ini dan dalam rangka lebih megoptimalkan pemanfaatan ruang di Kabupaten Tabalong perlu dilakukan pembaharuan updating) data dan konversi data/peta dari sistem manual ke sistem digital yang berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG), GPS (Global Positioning System), dan RS Remote Sensing).
GIS adalah sistem berbasis komputer yang mampu mengolah data spasial bereferensi geografis sehingga mudah dilakukan pengolahan dan analisis data. GPS adalah teknik penentuan posisi obyek di muka bumi dengan menggunakan bantuan sinyal satelit navigasi. Sementara Remote Sensing adalah teknologi sekaligus teknik pengambilan data keruangan dengan memanfaatkan foto udara atau foto satelit. Salah satu hasil dari teknologi remote sensing adalah Citra satelit resolusi tinggi seperti IKONOS atau QUICK BIRD dapat memberikan gambaran detail tentang infrastruktur dan penggunaan lahan perkotaan, sedangkan citra satelit Landsat / Spot dengan skala lebih kecil digunakan untuk wilayah diluar perkotaan.
Tidak bisa disangkal lagi bahwa implementasi ketiga teknologi tersebut dalam bidang ini mampu meningkatkan efisiensi kerja dan pada akhirnya mengurangi biaya investasi sistem secara keseluruhan. Meskipun investasi pada tahap awal relatif besar (tergantung cakupan sistemnya), namun manfaat yang dirasakan setelah implementasi berjalan jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya investasinya. Integrasi GIS - GPS - RS dalam penyusunan tata ruang, diharapkan tercapai efektifitas dan efisiensi hasil kerja dalam aspek waktu, biaya dan tenaga.
Disamping itu, Teknologi GIS – GPS – RS selain dimanfaatkan untuk perencanaan tata ruang juga dimanfaatkan untuk menyusun peta penggunaan lahan yang paling up to date, identifikasi kawasan kumuh, pembuatan site plan, identifikasi wajib pajak, inventarisasi pelanggan (telepon, air bersih, listrik), monitoring perubahan penggunaan lahan, identifikasi kawasan banjir, dll.
Secara time series, Teknologi GIS – GPS - RS dapat digunakan untuk memantau dan menertibkan ruang serta menyediakan informasi terkini untuk kepentingan penentuan lokasi investasi swasta. Data hasil teknologi tersebut mudah diolah menjadi peta karena relatif tidak lagi memerlukan koreksi geometrik maupun radiometrik. Keistimewaan ini memungkinkan para aparat pengelola tata ruang daerah mampu melakukan sendiri kajian dan analisis. Dengan mampu menangani data secara mandiri, pada akhirnya akan memperkuat kemampuan daerah dalam peningkatan kualitas perencanaan dan pengendalian pemanfaatan ruang daerah.

Kota di Indonesia tidak sehat

Kota-kota besar di Indonesia “tidak sehat”. Struktur pertumbuhannya cenderung meniadakan ruang terbuka, sedangkan pemukiman terus terdesentralisasi, bergerak menjauh dari pusat kota, menyebar dan menggeser wilayah pertanian di wilayah pinggiran. Proses ini tidak saja kian membebani pengelolaan kota namun juga mengorbankan fungsi ekologis lingkungan dan tanah pertanian di wilayah pinggiran dengan segala dampaknya, seperti :
  • Permukimam kumuh
  • Kemacetan
  • Degradasi lingkungan
  • Polarisasi kemampuan masyarakat, serta 
  • Social unrest 
adalah sejumlah indikator permasalahan yang secara kumulatif tidak efektif bagi pertumbuhan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat kota dan wilayah pingirannya serta membebani roda pertumbuhan nasional. Transformasi struktur perkonomian Indonesia yang prematur menjadi akar seluruh permasalahan ini sehingga laju urbanisasi menjadi terlampau tinggi di atas kemampuan kota untuk berbenah. Dengan demikian, pengelolaan kota, termasuk penataan ruangnya, tidak dapat lagi dipandang sebagai beban internal kota.